Sabtu, 28 Mei 2016

Ketika barat salah menafsirkan



By : Elvi Affida
Mahasiswa, FDK UIN Ar - Raniry
 
Banyaknya usaha penyesatan dan ungkapan yang mengatakan bahwa perkembangan serta kebangkitan Islam di Eropa, dimulai dari Italia. Sebenarnya perkembangan dan kebangkitan itu dimulai dari Andalusia yang telah banyak mengambil kekuatan pendorongnya saat itu pada abad ke- 13 Masehi. Para ulama Islam dalam spesialisasinya mempunyai peran positif dalam mengembangkan Eropa, hal itu terlihat dari bidang ilmu eksperimental, terapan, juga ilmu teoretisnya. Seorang penulis Spanyol Plasco Abianz  menegaskan bahwa perkembangan Islam di Eropa bukan dari Utara melainkan dari Selatan. Kaum muslim yang pertama sekali melakukan Futuhatnya terhadap Andalusia, mereka datang membawa peradaban, kemajuan, serta memasukkan budaya yang masih muda dan berenergik, sehingga dengan cepatnya kebudayaan ini berkembang dan menapjubkan. Umat Islam seperti langsung menang ketika terlahir di bumi Andalusia. 

Pada masa itu Islam memberikan iklim kebebasan kepada manusia terhadap peradabannya, hal ini dilakukan untuk mengkaji dan meneliti demi kepentingan ilmu pengetahuan tanpa membelenggu dengan berbagai belenggu yang dilakukan oleh Gereja terhadap akal Eropa.
Pada abad pertengahan. Gereja memperluas kekuasaannya pada bidang pendidikan di Eropa, akan tetapi tujuan pendidikan mereka saat itu terbatas pada Filsafat agama dan Pendidikan akhlak. Dalam pikiran dan pandangan mereka bahwa manusia akan sampai pada pemikiran-pemikiran keagamaan yang benar, menurut buku pelajaran yang dikemas dengan baik. Sementara itu, Kristen Protestan meyakinkan masyarakat bahwa pendidikan membawa kepada keselamatan dan berkomunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan dimana saja dengan membaca Injil. Maka ilmu-ilmu agama terpinggirkan serta diganti oleh ilmu-ilmu alam yang bersumber pada Yunani, akibatnya nilai-nilai moral semakin hilang dari hari ke hari. Sementara kebenaran dan kebaikan yang dipikirkannya itu, suatu bendungan yang harus dihancurkan karena menurutnya semua itu didirikan oleh orang-orang lemah untuk menyelamatkan diri dari tekanan orang kuat. Islam pertama sekali dimusuhi oleh Eropa, sehingga mereka memilih untuk mengikui warisan Romawi dan Spanyol yang menyembah akal dan tubuh. Akan tetapi adanya pendudukan Spanyol pada abad ke- 18 merupakan jalan pertama kaum muslim ke Eropa, pendudukan ini dibantu para Uskup Sevilla yang iba melihat kebodohan, keterbelakangan, dan kekacauan social.

Kaum muslim selanjutnya mengubah kondisi itu dengan menciptkan kestabilan, keamanan, serta pembangunan dan pekembangan. Andalusia dibawah kekalifahan Cordoba dan ibu kota para Khalifah Umawi, menjadi daerah di Eropa yang kaya serta berperadaban. Kaum muslim kemudian memperkuat kekuasaannya di Spanyol dengan ilmu pengetahuan, mereka membuat buat berbagai inovasi sesuai dengan suasana yang didukung oleh tanah Eropa.
Masuknya kaum muslim menundukkan Andalusia pada masa kekalifahan Walid bin Abdul Malik melalui tangan panglima Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyat pada tahun 92 H, hingga jatuhnya Granada pada akhir kerajaan di Spanyol tahun 897 H bertepatan dengan 1492 Masehi.  Masuknya kaum islam di Spanyol bukan sebagai penjajah militer, tapi sebagai futuhat islami yang berperadaban, yang mempengaruhi hingga berpengaruh sampai ke Barat-Eropa. 

Perkembangan Islam mencapai puncaknya di Andalusia pada abad ke-10 Masehi, karena letak yang stategis maka Andalusia terus menjadi daerah interaksi antara Islam dan Kristen. Penduduk Spanyol saat itu mencapai angka 30 juta jiwa. Dengan banyaknya penduduk sehingga berinteraksilah seluruh ras dan agama dalam keberagaman yang tidak tebatas. Populasi muslim di daerah Andalusia ini semakin meningkat dikarenakan pada tahun 1085 pelajar dari negara Barat-Eropa masuk ke Spanyol untuk belajar bahasa Arab dan pernerjemahannya ke bahasa Latin, untuk mengambil manfaat dari kaum muslim di Andalusia sehingga kalangan Yahudi turut serta aktif dalam kehidupan kebudayaan Andalusia pada abad ke-13, sehingga mereka terus menetap di daerah itu.

Dapat juga dilihat dari perkembangan Islam di negara sekuler. Turki adalah Sekuler yang mayoritas penduduknya beragama Islam sejak zaman Kesultanan Utsmaniyah yang menguasai Turki pada tahun 1400-an sehingga pemeluk islam di Turki semakin banyak kini di perkirakan sekirat 99% penduduk Turki adalah muslim. Kebanyakan muslim di Turki Sunni dengan 70-80%, dan sisanya adalah Alevis dan Syiah dengan 20-30%, setra pengikut dua belas Imam dengan 3%.
Pada tahun pertama Masehi, wilayah Turki yang masa itu bernama Kerajaan Bizantium dikuasai oleh Romawi selama empat abad. Kekuasaan Romawi dapat di jatuhkan oleh Kaum Barbar, sehingga saat ini ibu kota Kerajaan di pindahkan dari Roma ke Konstantinopel yang sering disebut Istambul. Pada abad ke- 12 Bizantium jatuh dalam Kerajaan Ottoman yang dipimpin oleh Raja Osman I, ini adalah masa keemasan Turki Ottoman, selain itu pemerintah Turki Ottoman memperoleh pengaruh Islam yang kuat.
Setelah Osman I meninggal, kekuasaan kesultanan Utsmaniyah kemudian meluas sampai ke bagian Timur Mediterania dan Balkan. Dengan demikian wilayah itu menjadi awal nya penyebaran agama Islam di Eropa dan terus meluas.
Perkembangan hukum yang ada di negara Turki ini, pada periode awal bahwasanya hukum islam dilaksanakan sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah bahkan lebih cenderung kepada Tradisional dan Konservatif. Pada periode pertengahan disebutkan juga, sudah ada usaha untuk memasukkan hokum Islam kedalam undang-undang Negara Turki. Selanjutnya pemikiran pembaruhan hukum Islam sudah mulai muncul. Dan pada periode Modern terjadilah pembaruan besar-besaran di Turki termaksud juga Turkinisasi hukum Islam. Mustafa Kamal merubah bentuk negara dari Monarki menjadi Republik yang di awalnya masih berdasarkan agama Islam, hanya dalam perkembangan selanjutnya negara itu diubah menjadi negara Sekuler sampai sekarang.

Saat ini dapat diprediksikan masa depan Islam didunia,pada masa selanjutnya akan bekembang sangat pesat di seluruh penjuru dunia . Dikarenakan Umat muslim dengan segala kepandainya akan segera menundukkan negara Eropa-Amerika kepada dunia Islam, Hal ini disebabkan dengan banyak nya pelajar Eropa-Amerika untuk belajar berbagai ilmu pengetahuan, terutama bahasa Arab Filsafat agama juga Pendidikan akhlak, dangan begitu para pelajar itu justru mencari dan mengali tentang Islam, walau pun mereka menafsirkan bahwa untuk mengambil maanfaat dari itu, justru itu lah problem yang harus diselesaikan dan jembatan pertama bagi umat Islam untuk memudahkan perluasaan penyebarannya.

Sumber :
Dr. Lathifah Ibrahim Khadhar, Al-Islam fil Fikrul Gharbi, cet.1 – Jakarta :gemanisani press,2005
Prof. Dr. M Hasbi Amiruddin, MA. Konsep Negara Islam menurut Fazlur Rahman, cet.1 – Yogyakarta UII Press, 2000 (revisi 2006)